Minggu, 29 April 2012

Lesson #3. Pilar NLP

Para penemu NLP merumuskan bahwa, seorang praktisi NLP menjadi sangat efektif kalau dalam praktek baik untuk session terapi maupun untuk diri sendiri, ketika dia menggunakan  sedikitnya 4 pilar penting, 4 pilar NLP penting itu adlah:
- Outcome
- Sensory Acuity
- Rapport
- Flexibility
1. OUTCOME

Outcome atau tujuan sangat penting dalam mendasari setiap aktifitas. Sadar atau tidak setiap orang selalu mendasari setiap aktifitasnya dengan outcome. Jika tujuan anda mencari ilmu insya Allah akan mendapatkan ilmu, jika tujuan anda mencari uang insya Allah mendapatkan uang, jika tujuan anda untuk mencari istri maka anda dapatkan istri. Ilmu, uang, istri itulah outcome.

Otak seperti rudal, sekali tujuan ditetapkan dan tombol start telah ditekan Rudal akan mengaktifkan RAS (Recticular Active System), suatu sistem otomatis yang akan menggerakkan seluruh sumberdaya dan periferi kepada tujuan yang ingin diraihnya. Demikian juga otak manusia, ketika outcome telah ditetapkan dan usaha telah dijalankan, otak akan mencari solusi2 kreatif untuk membuka jalan menuju tujuan yang ingin di raih.

Bayangkan ketika anda pulang dari perjalanan jauh dan anda sangat haus, sebelum sampai di rumah anda sudah membayangkan "betapa nikmatnya sebotol soft-drink yang dingin dari dalam kulkas". Sesampai di rumah anda langsung buka kulkas, mencari pembuka botol namun ternyata tidak ditemukan. Anda kemudian mencari cara lain, anda mencungkil tutup botol tersebut dengan sudut pinggiran tembok dapur, ternyata malah temboknya yang cuil dan botol tidak berhasil terbuka. Anda mencoba lagi dengan ujung pisau, tidak berhasil lagi, namun tidak putus asa lalu mencari gunting untuk melubanginya. Apapun anda upayakan untuk membuka botol tersebut, namun guntingpun tidak anda temukan, dan dengan pakupun anda coba. Ahirnya dengan paku an batu anda bisa menikmati pepsi seperti yang anda cita-citakan.

Ketika anda menetapkan suatu tujuan, pastikan bahwa tujuan itu penting bagi anda, dan bagaimana anda tahu bahwa tujuan itu sudah tercapai agar anda tahu apakah langkah2 yang anda tempuh semakin mendekati atau menjauhi tujuan.
Dalam praktek terapi, outcome harus disepakati bersama antara terapis dengan klien. Misalnya anda seorang terapis, tanyakan apa tujuan klien datang kepada anda, kondisi seperti apa yang diinginkannya, bagaimana dia tahu bahwa kondisi itu sudah dicapai. Ini harus disepakati sebelum session terapi dimulai.

2. SENSORY ACUITY

Sensory acuity atau ketajaman indera tidak hanya melibatkan  panca indera itu sendiri, namun juga yang terkait dengannnya seperti fokus, filter-filter dan proses pemaknaan ketika  informasi masuk ke dalam pikiran kita.

Panca indera yang dimaksud adalah terdiri dari Visual (V) atau penglihatan, Auditory (A) atau pendengaran dan Kinesthetic (K) atau perasa, Olfactory (O) atau penciuman, dan Gustatory (G) atau peraba.Disingkat VAKOG. Dengan panca indera inilah informasi dunia luar masuk ke dalam sistem mental kita. Baik buruknya isi mental kita tergantung dari baik buruknya informasi yang masuk melalui indera VAKOG kita. Maka penting untuk menjaga indera kita dari masuknya hal2 buruk agar mental kit tetap bersih. Sedangkan filter adalah pengalaman masa lalu, aturan-aturan dan nilai-nilai, kebiasaan, sumber daya yang kita miliki, serta waktu yang tersedia sangat mempengaruhi cara kita memberi makna pada setiap pengalaman.

Maka baik buruknya isi mental kita tergantung kemana kita mengarahkan panca indera kita dan bagaimana kita memberi makna sedemikian sehingga hati kita jernih penuh hikmah sehingga kita menjadi semakin baik dari waktu ke waktu.

Dalam konteks terapi, ketajaman indera ini memegang peranan utama.  Dengan perhatian penuh menggunakan ketajaman indera,  melihat dengan seksama, mendengar dan merasakan perkembangan klien, dari mimik dan gestur, getaran suaranya, seorang terapis bisa dengan tepat melihat apakah klien sudah menjadi lebih baik, dalam arti apakah proses terapi sudah berhasil.

3. RAPPORT

Rapport adalah keakraban dan kenyamanan dan keselarasan.  baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Untuk aktifitas apapun agar memperoleh kelancaran dan kemudahan diperlukan rapport.

Dalam kasus komunikasi, rapport diartikan sebagai akrab, sesuai, selaras, berpihak, persamaan  dan kesetaraan. Sehingga tdak ada ganjalan dalam komunikasi. Semakin banyak persamaaan rapport makin baik. Dalam kondisi rapport kedua belah pihak menjadi saling percaya dan komunikasi berjalan mulus dan lancar. Sebaliknya, kondisi belum rapport adalah masih adanya perbedaan ide, beda pakaian, beda level, beda tujuan, dsb. Makin banyak perbedaan makin tidak rapport.

Hal ini sangat penting bagi setiap orang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks terapi. Seorang terapis, akan mengalami kesulitan besar jika tidak mendapatkan kepercayaan dari kliennya, dan untuk memperoleh kepercayaan diperlukan kondisi rapport yang baik.

Dalam motivasi diri untuk menghasilkan peak performance, rapport diartikan sebagai selarasnya ide dalam diri sesorang. Kondisi yang masih saling bertentangan di dalam hati membuat potensi tidak bisa keluar secara maksimal, adanya suara-suara hati yang masih saling bertentangan, sering disebut tidak kongruens, sehingga hasilnyapun tidak maksimal. Misalnya kita sebagai seorang sales, jika kita sendiri tidak yakin produk kita baik maka kita menjadi sangat sulit meyakinkan pembeli. Keyakinan yang bulat sehingga tidak ada keraguan lagi tentang manfaat produk kita, itulah yang disebut "rapport within".  

4. BEHAVIOR FLEXIBILITY

Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, dan biasanya yang paling fleksibellah yang pegang kendali, dialah yang akan jadi pemenang, yang menuai sukses.

Anthony Robbins mengatakan bahwa gagal itu tidak ada, yang ada hanya respons. Jadi kalau belum mendapatkan resons (hasil) seperti yang diinginkan lakukan lagi dengan cara yang berbeda. pegang teguh tujuannya flexibel dalam caranya. Lakukan dengan cara apapun untuk mencapai tujuan selama tidak melanggar syari'ah, dan norma-norma yang berlaku. Be flexy.

Seorang terapis yang hebat, dia tidak melakukan terapi dengan satu teknik dan memaksakan satu teknik itu untuk mengintervensi klien, dia sangat fleksibel. Dia mahir memilih teknik apa yang paling tepat untuk kliennya, dan dia siap menerapkan teknik lainnya ketika satu teknik belum berhasil. Be flexy.

Baik untuk membantu orang lain (terapi) maupun untuk membantu diri sendiri (personal ekselen), empat hal itu menjadi pilar penting keberhasilan praktisi NLP,  Outcome, Rapport, Sensory Acuity, dan Flexible.

References:
- NeoNLP Practitioner
- NFNLP Practitioner

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar